senja 17 Headline...

Rahasia Kuno Arab, Cara Untuk Memperbesar Kemaluan

Bukan topik kemaluan ini yang sedang dibahas, melainkan kemaluan dalam arti sikap dan tingkah laku kita
Mungkin sebelumnya saat Anda membaca judul diatas yang ada dalam benak pikiran langsung terkoneksi dengan urusan seputar perut kebawah, apalagi secara mitos yang ada dalam pandangan masyarakat pria dari ethnis daerah timur tengah memiliki ukuran kemaluan yang lebih besar dari ethnis lain. Namun kemaluan yang akan kita bahas ini merupakan kemaluan dengan arti yang lebih dalam dari kemaluan pengertian diatas. Karena kemaluan (rasa malu) merupakan sebagian dari pada iman. Sebenarnya yang akan Anda baca di sini adalah tentang cara meningkatkan rasa malu berdasarkan As Sunnah.


Bukan topik kemaluan ini yang sedang dibahas, melainkan kemaluan dalam arti sikap dan tingkah laku kita
Sekarang, karena malu itu ada dua jenis sebagaimana yang dikatakan Hasan al-Basri “Malu itu ada dua macam, malu yang menjadi bagian dari keimanan dan malu yang menunjukkan kelemahan seseorang”. Maka perlu kita perjelas akan malu yang kita bahas di sini yaitu malu yang menjadi bagian keimanan.

Sebagaimana yang mungkin sudah Anda pahami bahwa ‘malu adalah sebahagian dari iman’ (HR. Bukhari Muslim). Itu berarti semakin besar rasa malu Anda maka semakin besar pula keimanan Anda kepada Allah swt.
“Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tidak diragukan lagi, semakin Anda memperbesar rasa malu semakin besar kebaikan yang akan mendatangi Anda.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [HR.Ibnu Mâjah dan ath-Thabrâni)
Sering rasa malu dalam diri kita sudah sirna hingga kita bisa melakukan hal-hal yang tak baik dalam kehidupan kita tanpa beban
Sering rasa malu dalam diri kita sudah sirna hingga kita bisa melakukan hal-hal yang tak baik dalam kehidupan kita tanpa beban
Lalu mengapa kita harus terus memperbesar sifat malu ini?


  1. Karena jika ‘sifat malu’ hilang dari seseorang maka mudahlah dia melakukan berbagai pelanggaran dan tidak segan untuk bermaksiat bahkan dia tidak malu untuk bermaksiat secara terang-terangan (terbuka). Ingat, Rasul saw bersabda; “Setiap ummatku dimaafkan kecuali mereka yang terang-terangan”
  2. Dalam sebuah hadits lain dikatakan “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.” [HR.al-Hâkim dan ath-Thabrâni]
  3. Satu lagi, rasa malu akan membawa kita ke surga seperti disebutkan dalam hadits “Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” [HR.Ahmad]

Demikianlah.

Maka, teruskanlah memperbesar rasa malu Anda sebagaimana disebutkan dalam hadits; Bahwa Rasul itu sangat pemalu bahkan melebihi malunya seorang putri yang dipingit, tetapi Nabi tidak pernah malu untuk menegakkan amal ma’ruf nahi munkar.

Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”[HR.Abû Dawud, an-Nasa’I dan Ahmad]

Saya yakin, sebulan ini sudah cukup bermanfaat bagi kita untuk melatih diri meningkatkan rasa malu di hadapan Allah swt. Tinggal kita tingkatkan terus selama sebelas bulan selanjutnya. Dan semoga kita masih bertemu lagi di bulan Ramadhan yang akan datang. Aamiin…

(Sumber)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...